Jerman Memalukan!

Oliver Kahn
Penampilan “Die Mannschaft” dikecam mantan kiper nasional Jerman, Oliver Kahn. Menurutnya, performa tim asuhan Joachim Loew itu hanya biin malu, terutama saat menjamu Swedia dalam kualifikasi Piala Dunia 2014, Selasa, 16 oktober 2012 lalu.

Pada pertandingan itu, Jerman sudah unggul 4-0 lebih dulu. Akan tetapi, penampilan mereka jadi sangat buruk setelah itu. Akibatnya, hanya dengan 30 menit terarkhir, timnas Jerman kebobolan empat gol dan pertandingan berakhir dengan hasil imbang 4-4.

Kahn mengatakan pertandingan itu sangat memalukan, Jerman sudah mendominasi permainan hingga 60 menit. Hasil seri adalah kebodohan yang unik. Ketika skor sudah menjadi 4-2, seharusnya jerman memperkuat fokus untuk mempertahankan keunggulan, dengan memperkuat pertahanan. Kahn berpendapat, timnas Jerman tak bisa bereaksi dengan benar dalam menghadapi situasi ekstrem.

Oliver Kahn kembali mengkritik, bahwa ia melihat komunikasi antar pemain di lapangan sangat minim.Analoginya, ketika Anda memimpin seperti ini, gir secara otomatis harus anda turunkan. Ketika Anda memimpin dan kemudian lawan mulai bangkit, banyak hal akan hilang dari sebelumnya.

Kemudian, kedudukan dengan cepat berubah menjadi 4-3 dan Anda mulai panik sebagai konsekuensi logis. Lawan tiba-tiba makin bangkit. Tapi, tim yang ada di lapangan sudah cukup berpengalaman untuk tak membiarkan hal ini terjadi.

Kebangitan Swedia memang mengagumkan, gol Zlatan Ibraimovic menjadi tanda dimulainya kebangkitan itu. Tapi, menurut Kahn, yang terlihat parah dari tim Jerman adalah masalah fokus. Lemah saat berhadapan dengan tekanan diperlihatkan lini pertahanan timnas Jerman. Tugas Loew tak hanya memperbaiki taktik tim. Sudah jelas sekarang bahwa tim terlalu banyak kebobolan.

Oliver Kahn menyimpulkan, kemampuan fisik pemain Jerman harus ditambah. Selain itu, mereka juga harus memperbaiki fokus mereka untuk menghadapi sepak bola yang makin cerdas. Secara relatif ini bukan pendekatan fisik oleh 11 pemain Jerman.
Inteligen dalam situasi satu lawan satu harus ditingkatkan Joachim Loew. Ada fase di mana terkadang pemain harus berhadapan satu lawan satu dalam situasi keras. Lawan harus merasa kemampuan mereka jadi terbatas dalam kondisi itu.